Batu Parsidangan di Huta Siallagan
Apakah kalian pernah mendengar sejarah Batu Parsidangan? Kalo orang batak sih pasti sudah tidak asing lagi dengan hal ini, apalagi yang bermarga Siallagan. Tapi kalo yang belum pernah mempelajari sejarah batak atau orang yang belum pernah ke Samosir, akan timbul pertanyaan di benak mereka, apasih tuh Batu Parsidangan ? apasih tuh Huta Siallagan? Nah, untuk yang penasaran, saya akan menjelaskan lebih rinci tentang Batu Parsidangan ini. Batu Parsidangan ini adalah milik Raja Siallagan yang terletak di Huta Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Kalo Kabupaten Samosir uda tau dong dimana…pastinya ada di Sumatera Utara. Huta Siallagan ini letaknya tidak terlalu jauh dari Tomok, jaraknya hanya sekitar 5 km. Jadi kalo kalian sedang berada di Tomok, kalian bisa singgah ke Huta Siallagan menggunakan kendaraan roda empat ataupun roda dua. Jika tidak ada kendaraan untuk digunakan, kalian pun bisa menyewanya di Tuktuk. Kampung atau Huta Siallagan adalah sebuah kampung kuno yang dikelilingi oleh tembok batu besar setinggi kurang lebih 2 meter.Untuk memasuki kampung ini, kalian harus melewati gapura tua dengan tulisan “Huta Siallagan” dan terdapat sebuah patung besar yang disebut “pangulubalang” yang berfungsi sebagai penjaga Huta atau Kampung dan untuk mengusir roh jahat. Di kawasan Huta Siallagan ini berdiri 8 buah rumah adat tradisional batak dengan susunan berjajar yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun. Di dalam Huta ini juga terdapat sebuah pohon yang diduga juga sudah berumur ratusan tahun yang dinamakan Hariara atau Hau Habonaron yang artinya pohon kebenaran. Nah, di dekat pohon tersebutlah kalian akan mendapati kursi dan meja batu yang dikenal sebagai Batu Parsidangan.
Sekarang sudah tau kan dimana letaknya Batu Parsidangan ini. Selanjutnya saya akan menceritakan sejarah dari Batu Parsidangan yang ada di tanah batak ini. Huta Siallagan dibangun oleh seorang Raja Huta yang pertama, yaitu Raja Laga Siallagan. Sejak berdiri, Huta Siallagan ini dihuni oleh marga Siallagan yang merupakan keturunan dari Raja Naiambaton. Raja ini merupakan Raja yang mewarisi garis keturunan dari Raja Isumbaon atau anak kedua Si Raja Batak. Batu Parsidangan ini terbagi menjadi dua lokasi dan susunannya berbeda. Susunan yang pertama berupa deretan batu berbentuk kursi dan meja batu. Kursi tersebut untuk Raja dan Permaisuri, para tetua adat, Raja dari Huta tetangga, Datu atau Dukun, dan para undangan. Kemudian batu kedua berupa batu besar sebagai tempat mengeksekusi. Pada zaman dahulu, Batu Parsidangan ini digunakan sebagai tempat untuk mengadili para penjahat, pelanggar hukum adat, hingga musuh politik dari Raja setempat. Tanggal pengadilannya menggunakan kalender adat batak. Jika kesalahannya sangat berat, terdakwa bisa dihukum pancung.Sebelum diadili, jika memang dinyatakan bersalah maka terdakwa akan dipasung terlebih dahulu kemudian dibawa ke deretan batu sidang kedua dimana ada batu panjang untuk memenggal orang yang berada di belakang untuk di eksekusi. Terdakwa akan ditutup matanya dan tangannya diikat menggunakan ulos. Jika menyimpan ilmu kebal atau ilmu gaib, kemampuannya akan dihisap oleh raja dengan tongkat sakti.Setelah itu, tubuhnya diletakkan tertelungkup dengan bagian leher di cekungan batu pancungan, kemudian algojo melaksanakan eksekusi dengan pedang yang sangat tajam. Tidak hanya dipenggal, jantung dan hatinya pun diambil. Sang Datu akan menancapkan kayu Tunggal Panaluan ke jantung dan hatinya lalu dikeluarkan dan darahnya ditampung dalam cawan, kemudian daging terdakwa dibagikan kepada seluruh hadirin yang menyaksikan pengadilan itu untuk dimakan. Mereka percaya dengan memakan daging, hati, jantung dan darah terdakwa, akan mendapatkan ilmu tinggi.Tapi hal ini tidak dianggap sebagai praktek kanibalisme karna dahulu memang ada kepercayaan seperti itu. Ritual ini dilakukan hingga abad ke-19, namun setelah Raja Siallagan menganut agama Kristen kegiatan ini dihentikan dan tidak pernah dilakukan lagi.
Nah, kedengarannya cukup seram bukan?karna kisahnya bisa dibilang ngeri-ngeri sedap. Istilah orang batak makan orang mungkin bisa jadi mucul karena sejarah Batu Parsidangan tersebut. Kalo kalian penasaran dan merasa tertantang, kalian bisa mengunjunginya sendiri ke Huta Siallagan di Samosir. Batu Parsidangan ini cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara. Untuk kalian yang belum pernah mengunjungi tempat ini, jangan mau ketinggalan. Tempat ini sangatlah menarik untuk dikunjungi karna mengandung nilai sejarah yang tinggi. Dari sejarah Batu Parsidangan ini, kita tahu bahwa kehidupan di zaman dulu sangatlah jauh berbeda dari kita dan bahkan di luar bayangan kita. Setelah membayar tiket masuk, kalian bisa melihat-lihat atau berfoto sepuasnya. Jika ingin mendengar kisahnya secara langsung, kalian bisa mendengarnya dari pemandu wisata lokal atau warga setempat. Juga disediakan tempat duduk untuk wisatawan yang berkunjung. Dan yang tidak kalah menarik, di tempat ini juga disediakan acara manortor atau menari dengan patung sigale-gale yang hanya dimainkan pada jam tertetu saja. Huta Siallagan ini merupakan salah satu sejarah orang batak dan terutama yang kita kenal dengan marga Siallagan di Samosir yang cukup menarik untuk dikunjungi dan dijadikan sebagai tempat liburan.
Diana_uhn_17B
Semngat tante
BalasHapusMantap kudir
BalasHapusRalat dek. Di Huta Siallagan ya dek. Bukan di hita 😁 mantap. Tingkatkan terus 👏
BalasHapusBagus
BalasHapusMungkin dengan cara ini kita jadi lebih mengenal berbagai macam sejarah budaya kita
Sangat membantu udin
BalasHapusMenrik
BalasHapusBlackjack (Card Game) | Mapyro® USA
BalasHapusBlackjack is the most popular 포천 출장샵 casino card 동해 출장마사지 game. The game 서산 출장샵 is 포천 출장마사지 played as a single poker hand with no wagering. The game of Blackjack is played as a partnership 여주 출장샵 of two